Ekspor Mobil Penumpang China 8 Bulan Sudah Lewati Total 2025
HEADLINE - MOBIL
16 Oktober 2026

Ekspor mobil penumpang China dalam delapan bulan pertama 2026 sudah melampaui total sepanjang 2025. Kenaikan ditopang mobil listrik murni dan hibrida plug-in, sementara penjualan di pasar domestik justru turun tajam.

Kyodo News dikutip beberapa waktu yang lalu, melaporkan, data China Association of Automobile Manufacturers atau CAAM menunjukkan ekspor mobil penumpang pada Agustus melonjak 67,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sekitar 890.000 unit.

Sepanjang Januari hingga Agustus, China mengekspor lebih dari 6,2 juta mobil penumpang. Angka itu sudah melampaui total sekitar 6 juta mobil penumpang yang diekspor sepanjang 2025. Untuk seluruh jenis kendaraan, ekspor China pada 2025 mencapai 7,1 juta unit.


S&P Global Ratings memperkirakan ekspor mobil penumpang China sepanjang tahun ini bisa tumbuh 50 hingga 70 persen. China saat ini merupakan eksportir mobil terbesar di dunia. Namun, kondisi di pasar domestik bergerak sebaliknya. Penjualan mobil penumpang pada Agustus turun 25,6 persen secara tahunan menjadi sedikit di bawah 1,5 juta unit.

Pasar mobil dalam negeri menghadapi tekanan dari persaingan ketat dan perang harga. Perlambatan ekonomi juga melemahkan kepercayaan konsumen. Associate Director S&P Global Ratings Stephen Chan mengatakan ekspor mobil China sejauh ini lebih kuat dari perkiraan, didukung harga yang kompetitif dan kualitas produk.

“Pertumbuhan ekspor yang kuat kemungkinan besar akan membantu mengimbangi pelemahan di pasar domestik,” kata Chan. Dalam beberapa bulan terakhir, guncangan energi akibat perang Iran dan kenaikan harga bahan bakar juga mendorong lebih banyak pengguna kendaraan bensin dan diesel beralih ke kendaraan listrik.

Kenaikan ekspor juga ditopang mobil hibrida plug-in, yakni kendaraan yang baterainya bisa diisi dari sumber listrik eksternal. Tarif tinggi membuat sebagian besar mobil penumpang buatan China sulit masuk ke pasar Amerika Serikat. Sebaliknya, ekspor dan penjualan ke Eropa, Amerika Latin, Afrika, serta Asia Tenggara meningkat.

Produsen mobil China juga membangun lebih banyak pabrik di luar negeri. Analis Morgan Stanley menyebut lemahnya permintaan domestik membuat produsen memiliki insentif lebih besar untuk mengalihkan lebih banyak produksi ke pasar luar negeri.

Produsen China juga semakin bergerak dari sekadar mengekspor kendaraan jadi menuju perakitan dan produksi lokal. Strategi itu ditujukan untuk mengurangi dampak hambatan perdagangan sekaligus menekan biaya logistik.

Sumber : voi.id

viewed :: 145
Berita Lainnya :