| » Jadwal MotoGP Jerez, Spanyol 2026 « |
|
13 April 2026
HEADLINE - MOBIL
Harga BBM Melonjak, Permintaan Mobil Listrik Melonjak Di Asia
![]() Ketegangan geopolitik akibat konflik Iran dan Amerika Serikat serta Israel memicu perubahan besar di industri otomotif Asia. Harga bahan bakar yang melonjak tajam karena perang Timur Tengah tersebut, mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik (EV). Disitat dari Japan Times, di Manila, Filipina permintaan mobil listrik, khususnya dari merek asal China BYD, meningkat cukup drastis. Bahkan, Matthew Dominique Poh, seorang tenaga penjual di dealer setempat mengatakan, pesanan yang biasanya habis dalam satu bulan kini ludes hanya dalam dua pekan. Kondisi serupa terjadi di Hanoi, Vietnam. Dealer VinFast mencatatkan lonjakan kunjungan hingga empat kali lipat. Dalam tiga pekan sejak konflik pecah, penjualan mencapai 250 unit atau sekitar 80 unit per pekan, dan dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya. Bagi sebagian konsumen, keputusan beralih ke mobil listrik kini bukan lagi soal tren, melainkan kebutuhan ekonomi. Pengguna yang memiliki mobilitas tinggi menilai kendaraan listrik mampu memangkas biaya operasional secara signifikan, terutama di tengah ketidakpastian harga energi dunia. Meskipun laporan penjualan resmi untuk Maret 2026 hingga kini belum benar-benar dirilis ke publik, berbagai indikator awal mulai memperlihatkan arah yang cukup jelas. Sejumlah data sementara dan pengamatan pasar menunjukkan bahwa produsen kendaraan listrik asal Asia mulai memperoleh keuntungan signifikan dari situasi yang sedang berkembang. Di tengah ketidakpastian tersebut, nama-nama seperti BYD dan VinFast muncul sebagai pihak yang tampak paling diuntungkan. Kedua perusahaan ini dinilai mampu merespons perubahan pasar dengan cepat, terutama saat permintaan terhadap kendaraan listrik meningkat akibat tekanan eksternal pada sektor energi konvensional. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari lonjakan harga bahan bakar yang terasa sangat berat, khususnya di kawasan Pasifik. Wilayah ini memang sangat bergantung pada pasokan energi global, sehingga setiap gangguan distribusi akan langsung berdampak pada harga yang harus ditanggung oleh konsumen di berbagai negara. Sekitar 80% minyak mentah yang melewati Selat Hormuz biasanya berakhir di kawasan ini, menjadikannya sangat rentan terhadap perubahan situasi geopolitik. Ketika jalur tersebut terganggu akibat konflik, efeknya langsung terasa dalam bentuk kenaikan harga bahan bakar yang signifikan dan berkelanjutan. Kenaikan harga ini pada akhirnya mendorong pergeseran perilaku konsumen, yang mulai mencari alternatif lebih hemat dan stabil. Kendaraan listrik menjadi pilihan yang semakin menarik karena tidak bergantung langsung pada fluktuasi harga minyak, sehingga memberikan kepastian biaya operasional yang lebih baik. Dalam situasi seperti ini, produsen EV Asia berada pada posisi yang sangat strategis untuk memanfaatkan momentum. Dengan produk yang semakin kompetitif dan jaringan distribusi yang terus berkembang, mereka mampu menjawab kebutuhan pasar yang berubah dengan cepat dan memaksimalkan peluang yang ada. Simak video berikut : Sumber : avolta.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
