| » Jadwal Formula 1 Miami 2026 « | » Jadwal WorldSBK Hungaria 2026 « |
|
08 April 2026
TIPS - MOBIL
Waspada Di Belakang Kendaraan Lain Saat Banjir
![]() Tips ini muncul berdasarkan sebuah pengalaman pribadi ketika terjebak kemacetan di tengah banjir beberapa tahun silam. Situasinya sangat kacau. Lengkingan suara klakson bersahut-sahutan semakin menambah kecemasan. Pada saat seperti itu, usahakan jangan panik, karena hanya akan membuat kita sulit berpikir jernih dan logis. Pasrah adalah sikap yang lebih bijaksana sambil mencoba mempelajari apa risiko yang dihadapi jika: melanjutkan perjalanan dan mencari jalan alternatif, atau berhenti. Karena sudah kadung terjebak antrian kemacetan, pilihannya tidak mungkin berhenti karena akan membuat lalu lintas terganggu. Belum lagi risiko jika banjir semakin tinggi. Jadi hanya tersisa pilihan: melanjutkan perjalanan sambil mencari jalan alternatif. Melanjutkan perjalanan risikonya saat itu juga tidak kecil. Pasalnya jalan yang semakin menurun membuat ketinggian air semakin lama semakin bertambah, padahal saat itu genangan air sudah mencapai separuh ban sedan yang artinya sudah melebihi batas aman. Hujan yang deras juga menjadi penghalang para pengemudi lain untuk mengetahui seberapa dalam kondisi air di depan dan seberapa jauh banjir yang harus dilalui. Ditambah lagi keterbatasan jarak pandang. Untungnya beberapa meter di depan terdapat jalan alternatif di sebelah kiri. Beberapa mobil nampak berbelok ke arah itu. Namun setelah dicermati jalan alternatif itu juga memiliki risiko. Mulut jalannya lebih rendah dari ketinggian jalan raya. Namun sekitar 10 meter dari mulut jalan tidak ada genangan air karena menuju tempat yang lebih tinggi. Itu artinya, kendaraan harus 'menyelam' ke tempat yang lebih dalam namun dengan jarak yang terukur. Tindakan yang kami ambil saat itu adalah menunggu kendaraan di depan untuk melintasi genangan hingga berhasil menjangkau tempat aman. Mobil di depan kita juga bisa dijadikan sebagai indikator untuk memperkirakan kedalaman air. Di saat menunggu, rupanya sedan di belakang kami tidak sabar dan membunyikan klakson berulang-ulang, namun tidak kami gubris. Kami tidak mau ikut terjebak di dalam genangan air jika mobil di depan tiba-tiba mogok. Setelah situasi 'clear' dan sedan di depan melalui banjir dengan aman, tibalah giliran sedan kami. Tuas transmisi digeser ke posisi gigi satu dan mulai melepas pedal kopling secara perlahan. Moncong mobil mulai menyeruak genangan air. Namun yang kami khawatirkan terjadi. Sedan di belakang ikut 'terjun', dan kendaraan yang kami tumpangi tiba-tiba mogok. 'Pengikut' di belakang nampaknya panik dan kembali membunyikan klakson bertubi-tubi. Untungnya mesin mobil kami dapat dihidupkan kembali sehingga bisa mengarungi banjir sejauh 10 meter itu dengan selamat, namun tidak dengan sedan di belakang kami. Mesinnya mati total .....water hammer. Kesabaran telah memberikan banyak pelajaran berharga, dan itu sudah tidak lagi banyak dimiliki oleh masyarakat perkotaan di Indonesia yang mengaku lebih 'moderen'. Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
