PT. CITRA LODOK LESTARI
   Jadwal Lengkap Grand Prix F1 Kanada 2026   
10 Juli 2026
HEADLINE - MOBIL
Daftar Hitam Pentagon Meluas Ke Industri EV, BYD Dan Nio Terdampak


Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) memperbarui daftar perusahaan yang dikategorikan sebagai “perusahaan militer China” dalam Daftar Bagian 1260H. Sejumlah nama besar dari sektor kendaraan listrik, baterai, dan teknologi masuk dalam daftar terbaru tersebut, termasuk BYD, Nio, dan CALB.

Selain tiga perusahaan tersebut, daftar yang dijadwalkan terbit melalui Federal Register pekan ini juga mencantumkan Alibaba, Baidu, EVE Energy, Hesai, RoboSense, WuXi AppTec, TP-Link, hingga perusahaan robotika Unitree. Langkah ini memperluas cakupan daftar yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada sektor pertahanan dan telekomunikasi.

Masuknya Unitree menjadi perhatian tersendiri setelah Nvidia pada awal Juni mengumumkan kerja sama dengan perusahaan tersebut. Sementara itu, EVE Energy dikenal sebagai pemasok baterai bagi sejumlah produsen otomotif global seperti Tesla, BMW, dan Mercedes-Benz.


Dalam pembaruan yang sama, Pentagon juga menghapus beberapa entitas dari daftar sebelumnya, termasuk CNOOC China Ltd dan CNOOC International Trading yang memiliki keterkaitan dengan China National Offshore Oil Corporation.

Meski demikian, pencantuman dalam daftar tersebut tidak otomatis memicu sanksi terhadap perusahaan yang bersangkutan. Namun, status tersebut berpotensi membatasi peluang pengadaan Pemerintah AS di masa depan dan dapat mempersulit hubungan bisnis dengan mitra asal Amerika Serikat, terutama yang terkait dengan rantai pasok pertahanan, pasar modal, dan kontrak Pemerintah.

Perusahaan yang masuk daftar juga memiliki hak untuk mengajukan permohonan penghapusan kepada Pentagon. Berdasarkan dokumen Departemen Pertahanan yang dikutip dari CarNewsChina, beberapa waktu yang lalu, Pentagon menyebut BYD memiliki afiliasi langsung maupun tidak langsung dengan Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara China (SASAC), serta keterkaitan tidak langsung dengan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT).

Pentagon juga menilai BYD sebagai kontributor fusi militer-sipil karena hubungan tersebut dan keberadaannya di kawasan yang dikaitkan dengan program fusi militer-sipil. Untuk Nio, Pentagon menyatakan produsen kendaraan listrik tersebut memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan SASAC dan dianggap berkontribusi pada program fusi militer-sipil melalui afiliasinya dengan MIIT.

Menariknya, kedua perusahaan tetap memiliki jejak bisnis di Amerika Serikat. BYD telah mengoperasikan fasilitas produksi bus listrik di Lancaster, California, sejak 2014 setelah mengumumkan proyek tersebut setahun sebelumnya.

Pabrik tersebut kemudian diperluas hingga memiliki luas lebih dari 500.000 kaki persegi. Sementara itu, Nio dalam laporan ESG 2026 menyebut San Jose sebagai salah satu pusat penelitian dan pengembangan globalnya, bersama fasilitas lain yang tersebar di China, Eropa, Singapura, dan Abu Dhabi.

Selain BYD dan Nio, Pentagon juga memasukkan EVE Energy, Hesai, RoboSense, serta Unitree ke dalam daftar. EVE Energy disebut memiliki keterkaitan dengan SASAC dan memperoleh dukungan Pemerintah melalui program Single Champion China.

CALB yang turut masuk daftar merupakan salah satu produsen baterai kendaraan listrik terbesar di China. Perusahaan ini memasok baterai untuk berbagai merek seperti Xpeng, Leapmotor, GAC, Mazda, Changan, dan Deepal.

Pembaruan Daftar 1260H menunjukkan meluasnya fokus Pemerintah AS terhadap berbagai sektor teknologi strategis China, mulai dari kendaraan listrik, baterai, kecerdasan buatan, robotika, bioteknologi, semikonduktor, energi surya, hingga teknologi lidar. Washington beralasan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi mendukung strategi fusi militer-sipil China.

Perlu dicatat, Daftar 1260H berbeda dari Daftar Entitas milik Departemen Perdagangan AS maupun daftar sanksi Departemen Keuangan AS. Masuknya sebuah perusahaan ke dalam daftar Pentagon tidak otomatis melarang operasinya di Amerika Serikat, tetapi dapat meningkatkan risiko hukum, reputasi, dan membuka peluang munculnya pembatasan tambahan di masa mendatang.

Langkah terbaru ini juga mengingatkan pada insiden Februari lalu ketika Pentagon sempat mempublikasikan daftar serupa yang mencantumkan Alibaba, BYD, Baidu, dan TP-Link, sebelum kemudian menariknya kembali hanya beberapa menit setelah dipublikasikan tanpa penjelasan resmi.

Sumber : voi.id
viewed :: 139
Pasang banner ? hubungi : widipriono@gmail.com

Berita Terkait Lainnya :
Copyright 2013 motormobile.net